Catatan Harian Setahun Lalu (23 Januari 2010)

Posted: Januari 23, 2011 in Tak Berkategori

“..Opium en andere verdovende middelen, merupakan tindak pidana serupa candu dan obat-obat yang membiuskan…” Sayup-sayup masih ku dengar suara bapak itu, dosen ku di mata kuliah hukum pidana. Menguap sesekali, mencoret catatan, memangku tangan. Ah, tak bergairah, selalu begitu. Apa karena dunia baru yang tak ku inginkan ? Hukum, perkuliahan yang sangat membosankan, sangat ! Membaca, pasal, membaca lagi, dan pasal lagi ! Tak sanggup oleh ku si pemalas ini. Si pelanggar peraturan kini belajar tentang peraturan. Pikir ku kala itu, kala ku baru mencoba untuk makan bangku kuliahan. Wah, menjadi anak kuliahan itu pasti hebat, imaji ku dulu. Ya memang hebat, tapi tidak untuk jurusan ini. Benar-benar tak bisa menyatu dengannya, dan segala bentuk aturan-aturan yang menyebalkan. Kau tahu apa ? Ku ini ingin jadi seniman, bebas. Tak begini.

Berkeras kepala pun aku tak akan mampu. Pikiran orang tua, orang yang terpandang di kampung halaman, pikiran saudara-saudara, yang kesemuanya orang berpendidikan, sudah barang tentu menganggap remeh cita-citaku. “Mau jadi apa kamu yang hobinya cuma gambar sana, gambar sini ? perempuan lagi !” Semua amarah yang tertumpuk rasanya siap untuk ku keluarkan. Tapi ya bagaimana ? Dari dulu ku tak pernah diajarkan untuk kurang ajar. Ya ku menurut saja. Hukum mungkin jurusan yang pantas, untuk mereka, bukan untuk ku ternyata. Oke, finished !

Pun berbulan-bulan ku menjalaninya, tetap saja ku tak bisa berbaur dengan dunia ini. Untung jauh dari orang tua, hingga ku bisa menyimpan kekesalan ini sendiri. Jika pulang, tentu saja memasang wajah sumringah meskipun setengah-setengah ! Sudahlah, yang penting Bapak dan Ibu senang. Biar mereka merasa tak sia-sia membuang uang untuk semua peraturan yang harus ku dalami itu. Apalagi ditambah dengan nilai ku yang bagus, hmm lebih ke taraf lumayan tepatnya. IPK selalu di atas tiga, alhamdulillah. Ku yang tak sepenuh hati menjalaninya saja bisa mendapat nilai yang bagus, apalagi mereka yang sangat serius. Mereka yang memakai kacamata tebal, membawa buku tebal, dan tentu saja mempunyai dompet yang cukup tebal untuk semua itu. Tentunya harus lebih !

Ah, anak orang kaya itu mendekati ku lagi. Biasa, paling masalah gadget. Tak apalah menjadi teknisi amatiran. Beruntungnya aku, bisa mengenali semua orang di sekitar ku. Ya mulai dari si anak orang kaya ini, yang ngampus nya selalu gonta-ganti mobil. Ada juga yang kuliahnya cuma cari perhatian, ya si cantik. Pun tak ketinggalan anak yang serba tebal tadi, kacamata, buku, dan dompet tentunya. Ku tahu, dan ku mulai mengerti. Ku disini tak harus menjadi siapa-siapa.

Beberapa bulan ke depan ku akan memasuki tahun ketiga, tak terasa. Bisa juga ku menjalaninya. Kesemuanya ku lakukan untuk Bapak dan Ibu yang sudah mulai menua, sangat tak ingin rasanya menabur kata-kata kecewa di hadapan mereka. Jadi seniman pun tak harus ku tunda to ? Pikiran yang mulai dewasa mungkin membuat ku seperti ini. Setiap hari harus menghadapi orang-orang yang berbeda. Dan tentu saja tak harus membuat ku berbeda juga. Aku ya aku, anak Bapak dan Ibu ku yang cita-citanya jadi seniman ini lho. Memang tak harus merubah diri menjadi siapapun. Seniman pun juga bisa belajar hukum kok, contohnya ya aku ini. Hehe. “Kamu ! yang berjilbab hitam, coba ulangi apa yang saya terangkan tadi !” Ah sial, lagi-lagi aku kena gara-gara melamun saat perkuliahan.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s