Helaan nafasku terdengar sayup saat ku terjaga, ternyata suara hujan yang menderu itu yang telah membangunkanku. Ternyata masih jam tiga pagi, ku ingin menyambung mimpiku tapi fikiranku mulai melayang, bak menaiki sebuah mesin waktu yang membawaku kembali mengingat tentangmu. Tentang lembaran-lembaran yang pernah kita tulis bersama, meskipun usang tapi tetap masih tersusun rapi di tempatnya.
Masih segar di fikiranku pembicaraanmu tentang hujan, ketika itu ku mengeluh saat hujan mulai turun. Ku merasa kesepian saat hujan. Tapi kau malah menertawaiku, menertawai jalan fikiranku yang aneh itu. “Ku cinta hujan,” katamu. Ku bertanya dalam hatiku, kenapa ?? Kenapa Kau mencintai hujan ?? Dan kaupun menyambung kata-katamu itu, “Karena hujan lah pelangi itu ada.” Ku suka kata-kata itu, ku cinta dan ku cinta pelangimu itu. Dan sejak itu, kau sering mengajakku menunggu datangnya pelangi. Berdiri di gerbang sekolah berteduh dari hujan, dan menunggu pelangi. Kau pun bersorak riang ketika pelangi itu lambat laun menghiasi langit, “Pelangi ! pelangi ! itu pelangi kita…” Tak sadar kaupun memegangi tanganku saking gembiranya, ku hanya tersenyum melihatmu. Hanya pelangi yang bisa membuatmu tertawa seperti itu.
Ku tak ingat kapan terakhir kali kau memegangi tanganku ketika kita menyeberangi jalanan yang gaduh itu. Setiap kenangan yang kau selipkan di memoriku adalah kenangan yang teratur secara alphabetis, tersusun indah sehingga ku bisa mengenangmu dalam tulisan yang tak berharga ini. Ku tak tau lagi harus kemana mencarimu, namun ku juga tak tau apa yang harus ku katakan ketika kita bertemu nanti.
Ku sempat tertawa kecil di tengah malam itu, ku ingat ketika kau menyuruh temanmu untuk memberikan secarik kertas kepada ku. Kau bersembunyi di balik rumah tua itu, di atas sepeda metalik kesayanganmu itu. Ku hanya tersenyum melihat tingkah anehmu, segera ku ambil kertas itu dan ku simpan. Ku berhenti untuk membuka lembaran itu, ku baca dan ternyata kau menuliskan, “Apa kau sekarang sudah tak benci hujan ?” Ku hanya tertawa kecil membacanya.
Masih banyak kenangan manis yang kau berikan kepadaku, ku juga ingat ketika acara perpisahan di sekolah kita dulu. Ku ditunjuk untuk mengikuti tarian daerah, dan ku masih ingat kau berkata apa padaku, “Kamu terlihat manis dengan baju itu..” Hah, apalah yang ada difikiran anak perempuan berumur 12 tahun yang dipuji teman dekatnya. Ku hanya tersipu malu, dan yang lainnya menyoraki kita.
Di sela-sela acara ku juga tak menyangka kau menarik tanganku untuk pergi, ku tak tau akan kau ajak kemana. Kau berhenti tepat di tepi lapangan, dan kau membalikkan badanmu dan mengulurkan tanganmu. Ku tak tau apa maksudmu itu, tiba-tiba mata indahmu berkaca-kaca dan berkata, “Ku akan pergi jauh, ku ingin menitipkan pelangi kita padamu dan ku ambil lagi suatu saat” Dan kaupun meninggalkanku di lapangan itu sendiri, ku hanya diam dan tak tau apa yang harus ku perbuat.
Hari-hari berlalu, tak ku dengar lagi tawamu itu. Tak ku rasakan lagi kehangatan tanganmu yang selalu melindungiku. Suatu ketika ku bertemu pelangi, ku malah tak gembira seperti bersamamu. Pelangi itu enggan menyapaku tanpa kehadiranmu. Ku tak tau kenapa sejak kau pergi, setiap ku melihat pelangi ku merasa pelangi itu berubah warna menjadi lebih pucat dari biasanya, dan ku menitikkan air mata karena ku tak bisa melihat keceriaan pelangi di wajahmu itu.
Hampir tujuh tahun ku merasakan itu, setiap ku melihat anak-anak berumur 12 tahun itu mengejar hadirnya pelangi, menyambutnya dengan ceria, ku selalu merasa hari demi hari ketika hujan datang ia tak lagi berpelangi, pelangi kita. Dan ku masih berdiam diri di sini menanti tawamu yang indah itu. Ku masih menunggumu untuk kembali menjemput pelangi kita, di sini…
11 Tanggapan
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan sebuah tanggapan







sa ir yang dia baca adalah tidak ada yang terjadi padadirnya itu adalah dosa bagi orang islam.engkau manis dan cantik dicipta yang kuasa apakah mau sama kakak saya nama Rahimi Iskandar tinggal di andalas Rt 02 Rw 09 kelurahan andalas kecamatan padang timur sekarang kerja di malyasia.buatlah sair benar benar terjadi pada diri sendiri
tak perlu menanti pelanggi yang telahpergi terimalah pelanggi yang baru ada disamping dirimu anggablah dia pelnggimu yangtelah pergi sekianlamanya.untuk apa hari demi hari tahun demi tahun kau nanti namun pelanggi yang telah pergi tek kunjung kembali apakah mau menanti apakah pelanggi akan datang mencari dirimu.oh betapa kasihan terlampau mengharap kedatanggan pelanggi apadatang kepada dimu.
terimakasih atas tanggapannya, tapi itu pengalaman pribadi lo pak
*sok paham mode: on*
hebat… post ini bukaN hanya menggambarkan suasana hati penulis, tapi juga “menculik” sang pembaca untuk menyaksikan secara langsung kejadian itu dengan mata hati mereka….
bahasa yang kaya akan nilai sastra memberi gambaran jelas bahwa sang penulis secara murni mencurahkan isi hatinya, mengorek serpihan memori pada dinding ingatan…. bukan hanya sekedar copy paste tak jelas….
kereeeennn…
makasi atas komentar & kunjungannya. itulah yg diharapkan penulis, membawa pembaca mengikuti / menyaksikan secara langsung kisahnya
ah, bagus tulisanmu. salam kenal.
makasi pak
salam kenal, sering” mampir kesini ya pak
[...] Ketika Hujan Tak Lagi Berpelangi [...]
Hujan tak berpelangi tak mengapa, namun terkadang gembira menyaksikan pelangi tanpa hujan
iya juga sih
wah hebat juga, suka menulis ya buk?
salam kenal sekali lagi